Minggu, 20 Januari 2013

SULITNYA IKHLAS



Sulitnya Ikhlas
Untuk mendapatkan hati yang ikhlas, bukanlah sesuatu yang mudah. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala , kita akan takluk di tangan setan yang senantiasa bertekad untuk menjatuhkan kita, dan menjauhkan kita dari sikap ikhlas. Ketika Allah  Subhanahu wa Ta'ala melaknat Iblis, lalu ia merayu untuk menyesatkan semua anak cucu Nabi Adam, Allah  Subhanahu wa Ta'ala mengizinkannya, namun Iblis mengakui, ”Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang diikhlaskan di antara mereka.”  (Shad: 82-83)
IKHLAS ITU ANUGERAH ALLAH
            Setan dan bala tentaranya akan menjauhkan manusia dari sikap ikhlas, merasuki semua orang supaya durhaka pada Allah. Dan semua orang akan mengikutinya kecuali mereka yang memiliki hati yang diikhlaskan oleh Allah. Hamba-hamba yang bisa bersikap ikhlas adalah mereka terpilih dan tidak bisa disesatkan oleh setan.
            Oleh karena itu, berhati-hatilah. Mohonlah selalu bimbingan Allah serta waspadalah terhadap nafsu dan setan, supaya setiap amalan yang kita lakukan adalah karena dan untuk Allah semata-mata. Hanya dengan cara itulah kita selamat.

SELALU MERASA DIAWASI OLEH ALLAH
Untuk bersikap ikhlas, sekadar percaya adanya Tuhan saja belumlah cukup. Jika kita tanya pada oarang kafir sekalipun, apakah mereka tahu dan percaya adanya Tuhan, tentu mereka akan menjawab: kami tahu dan percaya. Tapi seolah-olah Tuhan sudah tidak ada dalam kehidupan mereka. Mereka tidak merasakan peranan dan kewujudan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Kebanyakan mereka berbuat segala sesuatu demi mengejar materi belaka.
Bila orang kenal dan menghayati Tuhan, barulah jiwanya terasa “hidup“. Terasa oleh hatinya setiap saat betapa Tuhan itu Maha Berkuasa, Menghidupkan, Mematikan, Menghukum, Mendengar, Melihat, Maha Besar, Maha Agung, Penyelamat, Penjaga, Pelindung, yang memberikan nikmat, yang menurunkan rahmat, dan memberikan nikmat, yang mewujudkan apa saja di dunia ini maupun di akhirat.
Rasa ”ber-Tuhan” yang tajam ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Rasa diawasi dan dilihat oleh Tuhan, rasa takut dengan Tuhan, merasa kehebatan Tuhan dan lain-lain akan mendorong seseorang untuk berbuat dan beramal karena Tuhan. Bukan karena sebab-sebab lain.
Bila dia dipuji oleh karena kerja-kerjanya dalam berdakwah dan membangunkan Islam, dia malu dan sibuk menepis pujian-pujian itu, sebab dia merasa bahwa Allah melihat segala kekurangan dan kecacatan amalannya. Bahkan dia merasa tersiksa dengan pujian-pujian itu. Dia mereasa bahwa tanpa kuasa Allah tidak mungkin dia mengeluarkan suara untuk berceramah atau membuat kerja-kerjanya itu.
Begitu juga bila dia dicaci orang, dia berterima kasih pada orang itu karena telah menunjukkan kelemahannya dalam beramal. Bahkan dia merasa amalannya lebih buruk daripada yang dikatakan orang itu. Hatinya tidak merasa sakit, bahkan mendorongnya untuk semakin takut kepada Allah dan dia segera bertaubat atas amalannya yang tidak sempurna itu.
Tetapi bila rasa ”ber-Tuhan” ini tidak ada atau tipis di dalam hatinya, ia tidak merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala  , maka segala perbuatannya tidak dikaitkan dengan Tuhan. Bila hasil kerja dia yang dia anggap cemerlang itu tidak dipuji orang maka hatinya akan pedih dan sakit. Apalagi bila dicela orang, kadang-kadang dia sampai marah, stres dan merancang pembalasan. Begitulah pentingnya mengusahakan rasa bertuhan ini.
Walaupun ikhlas itu anugerah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, usaha sungguh-sungguh untuk melahirkan ikhlas mesti dibuat. Buatlah berbagai amalan fardhu ’ain, fardhu kifayah, sunnah muakkad, habluminallah, hablum minannas, dan lain-lain. Kadang-kadang 1 amalan dibuat dengan lebih ikhlas dan bersungguh-sungguh daripada amalan lain.
Banyak amalan yang mudah berhadapan dengan tidak ikhlas terutama bila di dalamnya ada glamor, harta, dan kemahsyuran seperti berceramah, bernasyid, dan lain-lain. Begitu juga dengan shalat, puasa, haji, sangat susah untuk menjaganya agar semata-mata karena Allah dan dibuat dalam keadaan hati tidak lalai dari mengingat Allah.
Jangan hanya memikirkan kerja-kerja besar saja seperti membangunkan ekonomi Islam, kebudayaan Islam, pendidikan Islam yang sangat mudah berhadapan dengan tidak ikhlas. Pikirkan dan lakukan juga pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan toilet, memungut sampah di jalan, membersihkan masjid semata-mata karena Allah, bukan semata-mata karena pekerjaan dan kewajiban. Kerja-kerja ini biasanya tidak pernah kita ingat-ingat atau banggakan. Mungkin kecil pada penilaian manusia, tetapi besar timbangannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala  . wallaahu a’lam. (***)
{ditulis ulang dari majalah nikah SAKINAH volume 11, no.1 hal. 10 rubik Opini jumadil awwal-jumadil akhir 1433 / 15 April- 15 Mei 2012}

1 komentar:

  1. Ikhlas memang sulit, tapi kita bisa belajar ikhlas kan? Dengan ikhlas, kita akan menjadi manusia yang senantiasa bersyukur.

    * wah ternyata sudah lama juga menjadi seorang blogger. artikelnya berbobot juga. Nggak sekalian di pasangi iklan. yah untuk menambah penghasilan. Nggak banyak sih, tapi lumayan. kalau berminat pasang iklan, ikuti aja tutorial yang ane berikan disini. Klik disini

    BalasHapus

Silakan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan