Sulitnya Ikhlas
Untuk
mendapatkan hati yang ikhlas, bukanlah sesuatu yang mudah. Tanpa usaha yang
sungguh-sungguh dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala , kita akan takluk di tangan setan yang senantiasa bertekad untuk
menjatuhkan kita, dan menjauhkan kita dari sikap ikhlas. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melaknat Iblis, lalu ia merayu untuk menyesatkan
semua anak cucu Nabi Adam, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkannya, namun
Iblis mengakui, ”Demi kekuasaan Engkau, aku akan
menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang diikhlaskan di antara
mereka.” (Shad: 82-83)
IKHLAS ITU ANUGERAH ALLAH
Setan dan bala tentaranya akan menjauhkan manusia dari sikap
ikhlas, merasuki semua orang supaya durhaka pada Allah. Dan semua orang akan mengikutinya
kecuali mereka yang memiliki hati yang diikhlaskan oleh Allah. Hamba-hamba yang
bisa bersikap ikhlas adalah mereka terpilih dan tidak bisa disesatkan oleh
setan.
Oleh
karena itu, berhati-hatilah. Mohonlah selalu bimbingan Allah serta waspadalah
terhadap nafsu dan setan, supaya setiap amalan yang kita lakukan adalah karena
dan untuk Allah semata-mata. Hanya dengan cara itulah kita selamat.
SELALU MERASA DIAWASI OLEH ALLAH
Untuk bersikap ikhlas, sekadar percaya adanya Tuhan saja belumlah
cukup. Jika kita tanya pada oarang kafir sekalipun, apakah mereka tahu dan percaya
adanya Tuhan, tentu mereka akan menjawab: kami tahu dan percaya. Tapi
seolah-olah Tuhan sudah tidak ada dalam kehidupan mereka. Mereka tidak
merasakan peranan dan kewujudan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Kebanyakan mereka
berbuat segala sesuatu demi mengejar materi belaka.
Bila orang kenal dan menghayati Tuhan, barulah jiwanya terasa
“hidup“. Terasa oleh hatinya setiap saat betapa Tuhan itu Maha Berkuasa,
Menghidupkan, Mematikan, Menghukum, Mendengar, Melihat, Maha Besar, Maha Agung,
Penyelamat, Penjaga, Pelindung, yang memberikan nikmat, yang menurunkan rahmat,
dan memberikan nikmat, yang mewujudkan apa saja di dunia ini maupun di akhirat.
Rasa ”ber-Tuhan” yang tajam ini sangat penting dalam kehidupan
manusia. Rasa diawasi dan dilihat oleh Tuhan, rasa takut dengan Tuhan, merasa
kehebatan Tuhan dan lain-lain akan mendorong seseorang untuk berbuat dan
beramal karena Tuhan. Bukan karena sebab-sebab lain.
Bila dia dipuji oleh karena kerja-kerjanya dalam berdakwah dan
membangunkan Islam, dia malu dan sibuk menepis pujian-pujian itu, sebab dia
merasa bahwa Allah melihat segala kekurangan dan kecacatan amalannya. Bahkan
dia merasa tersiksa dengan pujian-pujian itu. Dia mereasa bahwa tanpa kuasa
Allah tidak mungkin dia mengeluarkan suara untuk berceramah atau membuat
kerja-kerjanya itu.
Begitu juga bila dia dicaci orang, dia berterima kasih pada orang
itu karena telah menunjukkan kelemahannya dalam beramal. Bahkan dia merasa
amalannya lebih buruk daripada yang dikatakan orang itu. Hatinya tidak merasa
sakit, bahkan mendorongnya untuk semakin takut kepada Allah dan dia segera
bertaubat atas amalannya yang tidak sempurna itu.
Tetapi bila rasa ”ber-Tuhan” ini tidak ada atau tipis di dalam
hatinya, ia tidak merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala , maka segala perbuatannya
tidak dikaitkan dengan Tuhan. Bila hasil kerja dia yang dia anggap cemerlang
itu tidak dipuji orang maka hatinya akan pedih dan sakit. Apalagi bila dicela
orang, kadang-kadang dia sampai marah, stres dan merancang pembalasan. Begitulah
pentingnya mengusahakan rasa bertuhan ini.
Walaupun ikhlas itu anugerah
dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, usaha sungguh-sungguh untuk melahirkan
ikhlas mesti dibuat. Buatlah berbagai amalan fardhu ’ain, fardhu kifayah,
sunnah muakkad, habluminallah, hablum minannas, dan lain-lain. Kadang-kadang
1 amalan dibuat dengan lebih ikhlas dan bersungguh-sungguh daripada amalan
lain.
Banyak amalan yang mudah
berhadapan dengan tidak ikhlas terutama bila di dalamnya ada glamor, harta, dan
kemahsyuran seperti berceramah, bernasyid, dan
lain-lain. Begitu juga dengan shalat, puasa, haji, sangat susah untuk
menjaganya agar semata-mata karena Allah dan dibuat dalam keadaan hati tidak
lalai dari mengingat Allah.
Jangan hanya memikirkan kerja-kerja
besar saja seperti membangunkan ekonomi Islam, kebudayaan Islam, pendidikan
Islam yang sangat mudah berhadapan dengan tidak ikhlas. Pikirkan dan lakukan
juga pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan toilet, memungut sampah di
jalan, membersihkan masjid semata-mata karena Allah, bukan semata-mata karena
pekerjaan dan kewajiban. Kerja-kerja ini biasanya tidak pernah kita ingat-ingat
atau banggakan. Mungkin kecil pada penilaian manusia, tetapi besar timbangannya
di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala . wallaahu a’lam. (***)
{ditulis ulang dari majalah nikah SAKINAH volume 11, no.1
hal. 10 rubik Opini jumadil awwal-jumadil akhir 1433 / 15 April- 15 Mei 2012}
Ikhlas memang sulit, tapi kita bisa belajar ikhlas kan? Dengan ikhlas, kita akan menjadi manusia yang senantiasa bersyukur.
BalasHapus* wah ternyata sudah lama juga menjadi seorang blogger. artikelnya berbobot juga. Nggak sekalian di pasangi iklan. yah untuk menambah penghasilan. Nggak banyak sih, tapi lumayan. kalau berminat pasang iklan, ikuti aja tutorial yang ane berikan disini. Klik disini