Sabtu, 10 November 2012

TAWASSUL KEPADA NABI MUHAMMAD shallallahu ‘alaihi wa sallam)

 Tawassul Kepada Nabi yang Disyariatkan dan yang Tidak Disyariatkan

Pertanyaan :
Apa hukum tawassul kepada penghulu para nabi (Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam) ; adakah dalil-dalil yang mengharamkannya ?

Jawaban :
Mengenai  hukum tawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menjadikan beliau sebagai perantara-penj.) harus dirinci dulu ;

Bila hal itu dilakukan dengan cara mengikuti beliau, mencintai, taat terhadap perintah dan meninggalkan larangan-larangan beliau serta ikhlas semata karena Allah di dalam beribadah, maka inilah yang disyariatkan oleh Islam dan merupakan dien Allah yang dengannya para Nabi diutus, yang merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani dengan syariat-penj.) serta merupakan sarana dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat .


Sedangkan bertawassul dengan cara meminta kepada beliau, beristighatsah kepadanya, memohon pertolongan kepadanya untuk mengatasi musuh-musuh dan memohon kesembuhan kepadanya, maka ini adalah syirik yang paling besar. Ini adalah dien Abu Jahal dan konco-konconya semisal kaum paganis (penyembah berhala). Demikian pula, bila dilakukan kepada selain beliau seperti kepada para Nabi, wali, jin, malaikat, pepohonan, bebatuan ataupun berhala-berhala.

Disamping itu,ada jenis lain dari tawassul yang dilakukan banyak orang,yaitu tawassul melalui jah
( kedudukan ) beliau,hak atau sosok beliau,seperti ucapan seseorang,"Aku memohon kepadamu,Ya Alloh,melalui nabiMu,atau melalui jah nabimu,hak NabiMu,atau jah para nabi,atau hak para Nabi,atau jah para Wali dan orang-orang shalih,"dan semisalnya,maka ini semua adalah perbuatan Bid'ah dan merupakan salah satu dari sarana kesyirikan.Tidak boleh melakukan hal ini terhadap beliau ataupun terhadap selain beliau karena alloh taa'la tidak pernah mensyariatkan hal itu sementara masalah ibadah bersifat tauqifiyyah ( bersumber kepada dalil-penj. ) sehingga tidak boleh melakukan salah satu darinya kecuali bila terdapat dalil yang melegitimasinya dari syariat yang suci.

Sedangkan tawassul yang telah dilakukan oleh seorang sahabat yang buta kepada beliau semasa hidupnya,maka yang sebenarnya dilakukanya adalah bertawassul kepada beliau agar berdoa untuknya dan memohon syafaat kepada alloh sehingga penglihatanya normal kembali.Jadi,bukan tawassul dengan ( melalui ) sosok,jah ( kedudukan ) atau hak beliau.Hal ini secara gamblang dapat diketahui melalui jalur cerita hadist (1) ( tentang itu ) dan melalui penjelasan yang diberikan oleh para ulama as-sunnah ketika menjelaskan hadist tersebut.

Syaikhul Islam,Abu al-Abbas,Ibnu Taimiyah rohimahulloh telah mamaparkan secara panjang lebar mengenai hal itu didalam kitab-kitabnya yang demikian banyak dan bermanfaat,di antara kitab yang berjudul : "al-Qa'idah al-Jalilah Fi At-Tawassul Wa Al-Wasilah".Ini adalah kitab yang amat bermanfaat dan pantas untuk dirujuk dan dipelajari.

Hukum bertawassul separti ini boleh,bila kepada orang-orang yang masih hidup selain beliau,seperti ucapakan anda kepada saudara anda,bapak anda atau orang yang anda anggap baik."Berdoalah kepada Alloh untukku agar menyembuhkan penyakitku !,atau agar memulihkan penglihatanku '."Menganugerahiku keturunan ",dan semisalnya.Kebolehan akan hal ini adalah berdasarkan Ijma'
( Kesepakatan ) para ulama.Wallahu waliyy at-Taufiq.


1.Yang dimaksud adalah hadist yang diriwayatkan oleh 'Utsman bin Hunaif: bahwa seorang laki-laki buta datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : Berdoalah kepada Alloh agar menganugerahiku afiat ( kesehatan )".lalu beliau bersabda :Engkau boleh pilih; aku doakan sekarang untukmu atau aku urungkan dan ini adalah baik bagimu". Orang tersebut berkata: "Berdoalah kepadaNya sekarang". Kemudian beliau menyuruhnya agar berwudhu' dengan sempurna, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa ini:
"Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu melalui NabiMu, Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad ! Sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku melaluimu dalam hajatku ini sehingga engkau dapat memutuskannya untukku . Ya Alloh, anugerahilah ia syafaatMu untukku". (H.R. Ahmad, Juz VIII, hal. 138; at-Tirmidzi, kitab ad-Da'awat, no. 3578; an-Nisa'i , kitab 'Amal al-Yaum wa al-LailaH, hal.204 serta Ibnu Majah, kitab Iqamah ash-Shalah, no.1358).


Sumber dari : Kitab Fatwa-Fatwa terkini jilid 1cetakan Darul Haq Jakarta  tahun 2003,hal 25
                     Fatwa AQIDAH DAN SEPUTARNYA no 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan